Lukni Pegiat Jagat Syafaat Kecewa Jika Taman Budaya Raden Saleh Jadi Kawasan Wisata Budaya dan Pasar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemkot Semarang berencana mengubah wajah taman budaya raden saleh (TBRS) yang terletak di Jalan Sriwijaya Kota Semarang. Nantinya, Pemkot akan membangun gedung serbaguna yang bisa dipakai untuk pertunjukan.

Menanggapi rencana tersebut, seorang seniman yang biasa beraktivitas di TBRS, Lukni Maulana mengatakan, dirinya setuju kawasan TBRS dibangun. Tetapi tetap menjadikan TBRS sebagai sebagai tempat yang murni untuk kesenian dan kebudayaan.

Karena itu, renovasi harus memerhatikan kegiatan utama di TBRS yakni sebagai kawasan kesenian dan kebudayaan. Ini akan menjadi salah kaprah apabila TBRS dijadikan kawasan wisata budaya bukan kawasan budaya.

"Kami mendukung pemerintah membangun wisata budaya yang bernilai ekonomis, tetapi itu di luar TBRS. Kawasan TBRS biarkan murni menjadi tempat berkesenian dan kebudayaan, bukan pasar," katanya, Senin (5/2/2018).

Dia curiga nantinya pengelolaan TBRS diserahkan kepada investor. Bukan berarti investor tidak boleh, tetapi konsep pengelolaan harus disampaikan secara terbuka dan jelas. Hal itu agar tidak terjadi salah kelola untuk kepentingan bisnis semata.

"Para seniman tidak dilibatkan sebagai bahan pertimbangan penyusunan Detail Engineering Design (DED). Tahu-tahu masterplannya sudah jadi. Kami tidak anti pembangunan, tetapi sudah seharusnya pemerintah melibatkan para seniman yang bersentuhan langsung di TBRS," ujarnya.

Sementara Budayawan Tjahyono Rahardjo mengaku belum melihat masterplan TBRS secara rinci. Ia bahkan mengaku alergi dengan sebutan gedung serba guna yang nantinya akan dibangun Pemkot Semarang.

"Karena kalau disebut gedung serbaguna nanti jadinya gedung tidak berguna. Karena serbaguna itu mau dipakai pameran lukisan bisa, rapat partai bisa, pertunjukan musik bisa, resepsi pengantin bisa. Lha kalau seperti itu nanti serba tanggung, untuk pameran lukisan tidak memenuhi syarat, pertunjukan musik tidak memenuhi syarat, semuanya tidak memenuhi syarat," paparnya.

Sekertaris Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, M Irwansyah mengatakan, Pemkot Semarang berencana membangun gedung pertunjukan di kawasan TBRS. Untuk itu, pihaknya sudah menganggarkan dana sebesar Rp 9 miliar. Rencananya, pembangunan akan mulai dilaksanakan pada tahun 2018 ini.

"Jadi kami akan membuat gedung baru, lokasinya di belakang, tepatnya di gedung pertemuan yang sekarang," katanya.




Gedung pertunjukan yang akan dibangun itu, lanjut Irwansyah, nantinya dapat digunakan untuk multi kegiatan para seniman di Kota Semarang. Selain untuk pertunjukan seperti wayang orang, gedung itu juga dapat digunakan untuk kegiatan lain seperti pentas seni ataupun pameran.

“Semua aktivitas seniman dan kebudayaan bisa dilakukan di gedung baru itu,” terangnya.

Alasan pembangunan gedung pertunjukan di lokasi gedung pertemuan lanjut Irwansyah agar aktivitas seniman tidak terganggu. Selama ini, banyak seniman yang menggunakan gedung Ki Narto Sabdo untuk aktivitas seninya.

“Untuk itu kami tidak mengutak-atik gedung itu, agar kegiatan seniman termasuk wayang orang Ngesti Pandowo tetap berjalan,” terangnya.

Untuk tahapan pembangunan proyek itu, saat ini masih dilakukan pelengkapan dokumen. Rencananya dalam minggu ini, dokumen itu sudah masuk proses lelang.

Selain gedung pertunjukan, lanjut Irwansyah, di lokasi itu juga akan dibangun penginapan. Karena konsepnya berada di lokasi hutan kota, maka dipastikan akan sangat menarik.

“Tapi untuk pembangunan penginapan itu mungkin tahun depan. Sekarang fokusnya baru gedung pertunjukan,” terangnya.(*)


Baca Juga:
  1. http://jateng.tribunnews.com/2018/02/05/pembangunan-gedung-serbaguna-di-tbrs-semarang-dikhawatirkan-seniman-ini-alasannya
  2. http://radarsemarang.com/2018/02/05/khawatir-jadi-gedung-serbaguna-yang-tak-berguna/2/
  3. https://www.jawapos.com/radarsemarang/read/2018/02/05/46328/khawatir-jadi-gedung-serbaguna-yang-tak-berguna
  4. https://www.radarmalang.id/rencana-revitalisasi-tbrs-semarang/

Komentar