Apakah Hanya di Akhirat? Menggali Makna Syafa’at Nabi Muhammad Saw Pada Umatnya



SYAFA’AT menurut bahasa adalah perantara dan permohonan. Syafa’at berasal dari akar kata  syaf’un yang artinya membuat sesuatu menjadi berpasangan, atau menyatukan sesuatu dengan jenisnya. Syafa’at adalah bergabungnya satu orang dengan orang lain sehingga akan menjadi genap (syaf) setelah sebelumnya ganjil untuk memperoleh darinya sesuatu yang dapat menghasilkan manfaat atau menyingkirkan mudharat. Sedangkan dalam ilmu tauhid syafa’at berarti pertolongan yanng diberikan oleh orang yang mempunyai kedudukan tinggi kepada orang yang mempunyai kedudukan lebih rendah yang sangat membutuhkan pertolongan itu.

Syafa’at ialah memohon dihapuskan dosa dan kesalahan seseorang. Orang yang diterima syafa’atnya dinamai musyaffa’ dan yang menerima syafa’at  disebut  musyaffi’. Sedang  istisyfa’ berarti meminta kepada seseorang agar memberi syafa’at kepada kita atau memohonkan kepada yang berwajib agar kesalahan kita diampuni.

Nabi Muhammad memberikan syafa’at bagi umatnya merupakan suatu ungkapan bahwasanya nabi adalah rahmatal lil ‘alamin. Syafa’atnya merupakan rahmat terindah bagi manusia, sebab dengan syafa’at rasulullah itu manusia mendapat keringanan, pertolongan dan keselamatan.

Sesuai dengan jenis-jenis syafa’at, pada pengertian syafa’at di atas, maka pemberian syafa’at nabi kepada umatnya dapat dikatakan pada 2 tempat, yakni : (1)  Syafa’at di dunia, (2)  Syafa’at di akherat.

Syafa’at di dunia ini berdasarkan dari jenis syafa’at qiyadiyyah, yaitu syafa’at yang berupa bimbingan nabi Muhammad. Syafa’at ini berupa misi kerisalahan dan suri tauladan oleh rasulullah untuk menuntun
manusia kepada jalan lurus dan tidak tersesat hidupnya. Syafa’at nabi tidaklah bisa disamakan dengan pemberian harta atau jabatan admistratif, tetapi syafa’at ini merupakan tiupan-tiupan keilmuan, akhlak yang bijak dan moral kenabian. Barang siapa yang bisa memahami apa yang dikatakan nabi dan jalan yang telah digariskan, berarti dia telah memperoleh syafa’at dan masuk dalam jama’ah.

Semua orang yang tercerahi oleh petunjuk rasulullah saw, dan yang mengikuti syari’atnya, kelak pada hari kiamat mereka akan berada di belakang beliau, dan rasulullah memimpin mereka dengan membawa “Panji Muhammad”. Istilah untuk menyatakan pada syafa’at ini adalah, terhindarnya seseorang dari jatuhnya dalam neraka. Sebab keluarnya para pelaku maksiat dari neraka melalui syafa’at atau terhindarnya mereka dari neraka sebelum dimasukkan ke dalamnya, dan juga bertambahnya kebaikan dalam amal orang-orang yang shaleh, adalah datang dari syafa’at nabi dankarena mengikuti petunjuknya. Bahkan seluruh pahala pun disebabkan karena itu. Demikian pula dengan seluruh keselamatan, adalah karenanya.

Mengikuti bimbingan, petunjuk dan ajaran-ajarannya, adalahsebuah  langkah untuk kemenangan dan keselamatan. Seandainya nabi Muhammad tidak datang membawa syari’at kepada kita, maka kebobrokan moral dan kebodohan akan membawa kita pada kehancuranyang kekal. Namun dengan kedatangan beliau, dan  mengikuti syari’a beliau, dan itu berarti kita masuk dalam syafa’atnya. Semua itu tidak terealisasikan kecuali dengan mengikuti nabi, dan tidak pula bisa diperoleh kecuali dengan mempersiapkan diri kita.

Pengertian syafa’at jenis inilah yang menyatakan rasulullah menjadi  syafi’ bagi Amir al-Mukminin dan Fatimah az-Zahra, dan keduanya menjadi syafi’ bagi Hasan dan Husennya. Setiap imam menjadi syafi’ bagi imam yang lain, murid-muridnya, dan para pengikutnya. Rangakian ini terjaga, dan semua yang dimiliki oleh para imam ma’sum diperoleh melalui perantaraan rasulullah yang mulia.

Syafa’at Nabi Muhammad Saw di dunia selain berupa bimbingan dan suri tauladan, juga berupa do’a. Do’a ini dpergunakan oleh nabi untuk mendo’akan orang-orang yang menyatakan taubat kepada Allah, dan atau juga do’a itu dipergunakan oleh nabi untuk seseorang, baik dalam sembahyang jenazah ataupun di lain kesempatan. Berkaitan dengan syafa’at nabi ini, Allah mengisyaratkan dalam
firman-Nya :

Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapat Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa: 64)


Allah menerangkan kepada mereka yang durhaka dan berdosa apabila nereka mengerjakan sesuatu dosa supaya segera pergi kepada rasul, memohon ampun kepada Allah serta mereka meminta kepada rasu turut memohon ampunan bagi mereka. Sekiranya mereka lakukan hal yang demikian, tentulah kesalahan mereka akan diampuni Allah. Tuhan yang sangat menerima taubat hamba-Nya.

Syafa’at di dunia yang semacam ini, dibenarkan kita memintanya kepada Nabi Muhammad Saw di masa hayatnya, bukan sesudah berpulangnya Nabi Muhammad ke hadirat Allah.  Syafa’at-syafa’at di dunia baik berupa bimbingan maupun do’a, sebenarnya bukan hanya Nabi Muhammad saja yang syafa’atnya berlaku bagi manusia, syafa’at para wali, para imam dan para ulama pun berlaku untuk kita. 

Selain syafa’atnya di dunia, Nabi Muhammad lebih identik dengan  syafa’atnya di akherat. Syafa’at Nabi di akherat ada dua macam:

Pertama, al-Syafa’ah   al-‘Uzma yakni syafa’at yang diberikan untuk meringankan umat dari keadaan hari kiamat yang sangat mengerikan. Kedua,  syafa’at bagi para pelaku maksiat dan pelaku dosa dari kalangan penganut tauhid.  Mereka ini meninggal dalam keadaan iman, tetapi semasa di dunia telah
melakukan sejumlah dosa besar dan belum sempat bertaubat.

Syafa’at  al-‘Uzma  (syafa’at agung) ini dipergunakan oleh Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia, untuk meringankan umat manusia dalam masa penantian di hari  (maghsar),  di mana saat itu
manusia menghadap Tuhan semesta alam, menunggu keputusan masuk surga atau masuk neraka.

Pada hari maghsar itu manusia akan mencari pertolongan kepada Nabi-Nabi yang terdahulu sampai kepada Nabi terakhi, Nabi Muhammad Saw. Telah diriwayatkan oleh Abi Hurairah r a:

Abi Hurairah berkata : telah dihidangkan kepada Nabi Saw daging. Lalu ia mengangkat sampil (paha) yang sangat disuka, lalu ia menggigit, tiba-tiba ia bersabda : Akulah pemimpin manusia di hari kiamat, tahukah kamu mengapakah itu ? Akan dikumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam sebuah dataran  sehingga mudah didengar tiap seruan dan dapat dilihat oleh mata, dan matahari di dekatkan, sehingga kerisauan manusia mencapai puncaknya dan tidak sanggup menanggungnya, sehingga mereka berkata : Tidakkah kalian memikirkan keadaan yang memuncak ini, tidakkah kalian mencari siapakah kiranya yang dapat memberikan syafa’atnya untuk menghadap kepada Tuhan ? sebagian mereka berkata:

lebih baik kalian pergi kepada Adam, maka pergilah mereka kepada Adam dan berkata kepadanya : Anda sebagai Bapak dari semua manusia, Allah telah menciptakan anda langsung dengan tangn-Nya, dan meniupkan ruh-Nya dan menyuruh malaikat bersujud kepadamu, tolonglah gunakan syafa’atmu untuk minta keringanan bagi keadaan kami ini, tidakkah anda mengetahui bagaimana beratnya penderitaan kami ini.

Jawab Adam : pada hari ini Tuhan sangat murka, belum pernah marah seperti kini, aku dekat kepada pohon, akhirnya aku melanggar, karena itu hari ini akau hanya memikirkan diriku. Diriku, diriku, lebih baik kallian pergi kepada Nbai Nuh a.s.

Maka pergilah mereka Nuh dan berkata : Anda pertama dari semua rasul kepada penduduk bumi, Allah menamakan anda hamba yang banyak syukur, tolonglah anda mintakan kepada Tuhan untuk meringankan keadaan kami ini, perhatikanlah keadaan kami ini.

Jawab Nuh : kini Tuhan telah murka yang belum pernah murka seperti ini dan tidak akan murka seperti hari ini, sedang aku dahulu diberi do’a mustajab dan sudah aku gunakan untuk kaumku. Kini aku hanya mengharapkan keselamatan diriku, keselematan diriku, keselamatan diriku, lebih baik kalian pergi kepada Ibrahim a.s.

Maka pergilah mereka kepada Ibrahim dan berkata : Anda Nabiyullah dan Khkalilullah dari penduduk bumi, tolonglah berikan syafa’atmu kepada Tuhan untuk meringankan penderitaan kami ini. Jawab Ibrahim a.s. : Sungguh Tuhan sangat marah belum pernah marah seperti ini dan tidak akan marah seperti hari ini, sedang aku pernah berdusta tiga kali, kini aku hanya minta keselamatan diriku, diriku, diriku, pergilah kalian kepada Musa a.s.

Maka pergilah rombongan itu kepada Musa, dan berkata : Anda sebagai utusan Allah telah dilebihkan
oleh Allah dengan risalah dan langsung mendengar firman Allah (berkata-kata dengan Allah), tolonglah berikan syafa’atmu kepada kami untuk meringakan penderitaan kami ini.

Jawab Musa a.s. : Sesungguhnya Tuhan sangat murka pada hari ini, belum pernah marah seperti inidan tidak akan marah seperti hari ini, sedang aku pernah membunuh orang yang tidak diperintahkan kepadaku, aku kini hanya mengharap semoga selamat diriku, diriku, diriku. Pergilah kalian kepada Isa a.s.

lalu mereka pergi kepada Isa a.s. dan berkata : Ya, Isa a.s. anda utusan Allah dan kalimat Allah yang diturunkan kepada Maryam, juga ruh dari pada-Nya, anda telah dapat berkata-kata sejak dibuaian, tolonglah berikan syafa’atmu untuk meringankan penderitaan kami.

Jawab Isa a.s. : Sesungguhnya pada hari ini Tuhan sangat murka, belum pernah marah seperti ini, dan tidak akan murka seperti ini, aku hanya mengharap semoga selamat diriku, diriku, diriku sendiri. Sedang Nabi Isa tidak menyebut dosanya. Tetapi kalian pergi kepada Muhammad Saw.

Maka datanglah mereka kepadaku dan berkata : Ya Muhammad anda sebagai Rasulullah dan penutup dari semua Nabi, Allah telah mengampunkan dosamu yang lampau dan yang kemudian, tolong berikan syafa’atmu kepada Tuhan untuk meringankan penderitaan kami ini, tidakkah anda mengetahui bagaimana keadaan kami ini. Maka pergilah aku ke bawah ‘Arsy untuk bersujud kepada Tuhan, kemudian Allah membukakan untukku puja-puji yang belum pernah aku ucapkan dan tidak pernah diucapkan oleh orang sebelumku, sehingga Tuhan berfirman : Ya Muhammad angakat kepalamu, mintalah aku terima, berikan syafa’atmu akan dilaksanakan, maka aku angkat kepala dan berdo’a : Ya Rabbi selamatkan ummatku, YA Rabbi selamatkan Ummatku. Di jawab : Ya Muhammad masukkan ummatmu yang tidak kena hisab dari pintu kanan sorga, sedang yang lain bersama orang banyak dari pintu lainnya. Kemudian Nabi Saw bersabda : Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya lebar di antara kedua daun pintu surga itu sebagaimana jarak antara Makkah dengan Himyar, atau antara Makkah dengan Bashra (Saym “. (HR. Bukhari Muslim)

Saat itulah Nabi Saw akan memberikan syafa’at kepada umatnya melalui do’anya kita akan memperoleh keringanan dalam masa penantian di tanah Maghsar  setelah Nabi Muhammad Saw mendapatkan izin dari Allah untuk dapat memberikan syafa’atnya, maka Nabi melaksanakan dan menggerakkan masa penghisaban, untuk menentukan masuk surgakah atau masuk neraka.

Syafa’at Nabi Saw di akherat selain syafa’at agung, yakni syafa’at bagi pendosa atau pelaku dosa  (Mudznib).  Pelaku dosa di sini yang dimaksud yaitu pelaku dosa besar  (ahl al-Kabair), baik dalam wujud
melakukan hal yang diharamkan, seperti makan harta riba, minum khamr atau zina, maupun dalam wujud meninggalkan shalat, enggan zakat, atau tidak berpuasa Ramadhan tanpa udzur.

Pembenaran syafa’at Nabi ditujukan kepada para pelaku dosa besar bukan kepada pelaku dosa kecil. Hal ini dikarenakan dengan menjauhi dosa besar berarti dosa-dosa kecil itu dihapuskan. Pelaku dosa besar akan memperoleh syafa’at Nabi Muhammad Saw setelah terlebih dahulu mereka dimasukkan ke nereka. Kemudian Allah menerima syafa’at beliau buat mereka yang berdosa ini dan selanjutnya dikeluarkan dari neraka.

Mereka (pelaku dosa besar) ini melakukan dosa besar, namun masih dalam  keadaan tauhid atau tidak menyekutukan Allah Swt.  Berkaitan dengan jaminan Rasulullah Saw dikeluarkannya ahli tauhid dari neraka, diriwayatkan oleh Abu Sayyed al-Khudri r.a. :

Abu Sayyed al-Khudri r.a. berkata : Nabi Saw bersabda : Akan masuk ahli surga ke surga, dan ahli neraka ke neraka, kemudian Allah memerintahkan : keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari iman, lalu dikeluarkanlah mereka sudah hitam warna mereka, lalu mereka dimasukkan dalam sungai (nahrul hayat) hidup. Maka tumbuhlah mereka itu bagaikan biji yang tumbuh setelah ada air bah. Tidaklah tumbuhnya berwarna kuning berbelit (berkait)“. (HR. Bukhari Muslim)

Syafa’at Nabi Saw di akherat, bisa dikatakan termasuk pada kategori jenis  Syafa’at Musthalahah,  di mana pada jenis syafa’at ini adalah merupakan sampainya rahmat dan maghfiroh Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya melalui Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw melaksanakan  syafa’atnya dengan berdo’a kepada Allah Swt dengan maksud meminta izin supaya dapat memberi syafa’at kepada umatnya.

Do’a Nabi Saw inilah yang disebut sebagai syafa’at. Nabi Saw menolong umatnya kelak di hari kiamat dengan do’anya yang mustajab. Do’a itulah yang selalu dinantikan oleh kaum muslimin kelak di hari kiamat atas izin Allah Swt, Nabi Muhammad Saw akan memberikan syafa’atnya kepada umat yang diizinkan oleh Allah Swt untuk diberi syafa’at. (Ummi Hanik, Ed. Lukni Maulana/Majelis Jagat Syafaat)

Komentar