SYAFA’AT menurut bahasa adalah perantara dan permohonan. Syafa’at
berasal dari akar kata syaf’un yang
artinya membuat sesuatu menjadi berpasangan, atau menyatukan sesuatu dengan
jenisnya. Syafa’at adalah bergabungnya satu orang dengan orang lain sehingga
akan menjadi genap (syaf) setelah sebelumnya ganjil untuk memperoleh darinya sesuatu
yang dapat menghasilkan manfaat atau menyingkirkan mudharat. Sedangkan dalam
ilmu tauhid syafa’at berarti pertolongan yanng diberikan oleh orang yang
mempunyai kedudukan tinggi kepada orang yang mempunyai kedudukan lebih rendah
yang sangat membutuhkan pertolongan itu.
Syafa’at ialah memohon dihapuskan dosa dan kesalahan seseorang. Orang
yang diterima syafa’atnya dinamai musyaffa’ dan yang menerima syafa’at disebut
musyaffi’. Sedang istisyfa’
berarti meminta kepada seseorang agar memberi syafa’at kepada kita atau
memohonkan kepada yang berwajib agar kesalahan kita diampuni.
Nabi Muhammad memberikan syafa’at bagi umatnya merupakan suatu ungkapan
bahwasanya nabi adalah rahmatal lil ‘alamin. Syafa’atnya merupakan rahmat
terindah bagi manusia, sebab dengan syafa’at rasulullah itu manusia mendapat
keringanan, pertolongan dan keselamatan.
Sesuai dengan jenis-jenis syafa’at, pada pengertian syafa’at di atas, maka
pemberian syafa’at nabi kepada umatnya dapat dikatakan pada 2 tempat, yakni : (1) Syafa’at di dunia, (2) Syafa’at di akherat.
Syafa’at di dunia ini berdasarkan dari jenis syafa’at qiyadiyyah, yaitu
syafa’at yang berupa bimbingan nabi Muhammad. Syafa’at ini berupa misi
kerisalahan dan suri tauladan oleh rasulullah untuk menuntun
manusia kepada jalan lurus dan tidak tersesat hidupnya. Syafa’at nabi
tidaklah bisa disamakan dengan pemberian harta atau jabatan admistratif, tetapi
syafa’at ini merupakan tiupan-tiupan keilmuan, akhlak yang bijak dan moral
kenabian. Barang siapa yang bisa memahami apa yang dikatakan nabi dan jalan
yang telah digariskan, berarti dia telah memperoleh syafa’at dan masuk dalam
jama’ah.
Semua orang yang tercerahi oleh petunjuk rasulullah saw, dan yang mengikuti
syari’atnya, kelak pada hari kiamat mereka akan berada di belakang beliau, dan
rasulullah memimpin mereka dengan membawa “Panji Muhammad”. Istilah untuk
menyatakan pada syafa’at ini adalah, terhindarnya seseorang dari jatuhnya dalam
neraka. Sebab keluarnya para pelaku maksiat dari neraka melalui syafa’at atau
terhindarnya mereka dari neraka sebelum dimasukkan ke dalamnya, dan juga
bertambahnya kebaikan dalam amal orang-orang yang shaleh, adalah datang dari
syafa’at nabi dankarena mengikuti petunjuknya. Bahkan seluruh pahala pun
disebabkan karena itu. Demikian pula dengan seluruh keselamatan, adalah
karenanya.
Mengikuti bimbingan, petunjuk dan ajaran-ajarannya, adalahsebuah langkah untuk kemenangan dan keselamatan.
Seandainya nabi Muhammad tidak datang membawa syari’at kepada kita, maka kebobrokan
moral dan kebodohan akan membawa kita pada kehancuranyang kekal. Namun dengan
kedatangan beliau, dan mengikuti syari’a
beliau, dan itu berarti kita masuk dalam syafa’atnya. Semua itu tidak terealisasikan
kecuali dengan mengikuti nabi, dan tidak pula bisa diperoleh kecuali dengan
mempersiapkan diri kita.
Pengertian syafa’at jenis inilah yang menyatakan rasulullah menjadi syafi’ bagi Amir al-Mukminin dan Fatimah
az-Zahra, dan keduanya menjadi syafi’ bagi Hasan dan Husennya. Setiap imam
menjadi syafi’ bagi imam yang lain, murid-muridnya, dan para pengikutnya. Rangakian
ini terjaga, dan semua yang dimiliki oleh para imam ma’sum diperoleh melalui
perantaraan rasulullah yang mulia.
Syafa’at Nabi Muhammad Saw di dunia selain berupa bimbingan dan suri
tauladan, juga berupa do’a. Do’a ini dpergunakan oleh nabi untuk mendo’akan
orang-orang yang menyatakan taubat kepada Allah, dan atau juga do’a itu
dipergunakan oleh nabi untuk seseorang, baik dalam sembahyang jenazah ataupun
di lain kesempatan. Berkaitan dengan syafa’at nabi ini, Allah mengisyaratkan
dalam
firman-Nya :
“Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya dirinya datang kepadamu,
lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka mendapat Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.
(QS. An-Nisa: 64)
Allah menerangkan kepada mereka yang durhaka dan berdosa apabila nereka
mengerjakan sesuatu dosa supaya segera pergi kepada rasul, memohon ampun kepada
Allah serta mereka meminta kepada rasu turut memohon ampunan bagi mereka.
Sekiranya mereka lakukan hal yang demikian, tentulah kesalahan mereka akan
diampuni Allah. Tuhan yang sangat menerima taubat hamba-Nya.
Syafa’at di dunia yang semacam ini, dibenarkan kita memintanya kepada
Nabi Muhammad Saw di masa hayatnya, bukan sesudah berpulangnya Nabi Muhammad ke
hadirat Allah. Syafa’at-syafa’at di
dunia baik berupa bimbingan maupun do’a, sebenarnya bukan hanya Nabi Muhammad
saja yang syafa’atnya berlaku bagi manusia, syafa’at para wali, para imam dan
para ulama pun berlaku untuk kita.
Selain syafa’atnya di dunia, Nabi Muhammad lebih identik dengan syafa’atnya di akherat. Syafa’at Nabi di
akherat ada dua macam:
Pertama, al-Syafa’ah al-‘Uzma
yakni syafa’at yang diberikan untuk meringankan umat dari keadaan hari kiamat
yang sangat mengerikan. Kedua, syafa’at bagi
para pelaku maksiat dan pelaku dosa dari kalangan penganut tauhid. Mereka ini meninggal dalam keadaan iman,
tetapi semasa di dunia telah
melakukan sejumlah dosa besar dan belum sempat bertaubat.
Syafa’at al-‘Uzma (syafa’at agung) ini dipergunakan oleh Nabi Muhammad
untuk seluruh umat manusia, untuk meringankan umat manusia dalam masa penantian
di hari (maghsar), di mana saat itu
manusia menghadap Tuhan semesta alam, menunggu keputusan masuk surga
atau masuk neraka.
Pada hari maghsar itu manusia akan mencari pertolongan kepada Nabi-Nabi
yang terdahulu sampai kepada Nabi terakhi, Nabi Muhammad Saw. Telah diriwayatkan
oleh Abi Hurairah r a:
“Abi Hurairah berkata : telah dihidangkan kepada Nabi Saw daging.
Lalu ia mengangkat sampil (paha) yang sangat disuka, lalu ia menggigit,
tiba-tiba ia bersabda : Akulah pemimpin manusia di hari kiamat, tahukah kamu
mengapakah itu ? Akan dikumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir
dalam sebuah dataran sehingga mudah
didengar tiap seruan dan dapat dilihat oleh mata, dan matahari di dekatkan, sehingga
kerisauan manusia mencapai puncaknya dan tidak sanggup menanggungnya, sehingga
mereka berkata : Tidakkah kalian memikirkan keadaan yang memuncak ini, tidakkah
kalian mencari siapakah kiranya yang dapat memberikan syafa’atnya untuk
menghadap kepada Tuhan ? sebagian mereka berkata:
lebih baik kalian pergi kepada Adam, maka pergilah mereka kepada
Adam dan berkata kepadanya : Anda sebagai Bapak dari semua manusia, Allah telah
menciptakan anda langsung dengan tangn-Nya, dan meniupkan ruh-Nya dan menyuruh
malaikat bersujud kepadamu, tolonglah gunakan syafa’atmu untuk minta keringanan
bagi keadaan kami ini, tidakkah anda mengetahui bagaimana beratnya penderitaan
kami ini.
Jawab Adam : pada hari ini Tuhan sangat murka, belum pernah marah
seperti kini, aku dekat kepada pohon, akhirnya aku melanggar, karena itu hari
ini akau hanya memikirkan diriku. Diriku, diriku, lebih baik kallian pergi
kepada Nbai Nuh a.s.
Maka pergilah mereka Nuh dan berkata : Anda pertama dari semua rasul
kepada penduduk bumi, Allah menamakan anda hamba yang banyak syukur, tolonglah
anda mintakan kepada Tuhan untuk meringankan keadaan kami ini, perhatikanlah
keadaan kami ini.
Jawab Nuh : kini Tuhan telah murka yang belum pernah murka seperti
ini dan tidak akan murka seperti hari ini, sedang aku dahulu diberi do’a mustajab
dan sudah aku gunakan untuk kaumku. Kini aku hanya mengharapkan keselamatan
diriku, keselematan diriku, keselamatan diriku, lebih baik kalian pergi kepada
Ibrahim a.s.
Maka pergilah mereka kepada Ibrahim dan berkata : Anda Nabiyullah
dan Khkalilullah dari penduduk bumi, tolonglah berikan syafa’atmu kepada Tuhan
untuk meringankan penderitaan kami ini. Jawab Ibrahim a.s. : Sungguh Tuhan sangat
marah belum pernah marah seperti ini dan tidak akan marah seperti hari ini,
sedang aku pernah berdusta tiga kali, kini aku hanya minta keselamatan diriku,
diriku, diriku, pergilah kalian kepada Musa a.s.
Maka pergilah rombongan itu kepada Musa, dan berkata : Anda sebagai
utusan Allah telah dilebihkan
oleh Allah dengan risalah dan langsung mendengar firman Allah (berkata-kata
dengan Allah), tolonglah berikan syafa’atmu kepada kami untuk meringakan
penderitaan kami ini.
Jawab Musa a.s. : Sesungguhnya Tuhan sangat murka pada hari ini, belum
pernah marah seperti inidan tidak akan marah seperti hari ini, sedang aku
pernah membunuh orang yang tidak diperintahkan kepadaku, aku kini hanya
mengharap semoga selamat diriku, diriku, diriku. Pergilah kalian kepada Isa
a.s.
lalu mereka pergi kepada Isa a.s. dan berkata : Ya, Isa a.s. anda utusan
Allah dan kalimat Allah yang diturunkan kepada Maryam, juga ruh dari pada-Nya,
anda telah dapat berkata-kata sejak dibuaian, tolonglah berikan syafa’atmu
untuk meringankan penderitaan kami.
Jawab Isa a.s. : Sesungguhnya pada hari ini Tuhan sangat murka,
belum pernah marah seperti ini, dan tidak akan murka seperti ini, aku hanya
mengharap semoga selamat diriku, diriku, diriku sendiri. Sedang Nabi Isa tidak
menyebut dosanya. Tetapi kalian pergi kepada Muhammad Saw.
Maka datanglah mereka kepadaku dan berkata : Ya Muhammad anda sebagai
Rasulullah dan penutup dari semua Nabi, Allah telah mengampunkan dosamu yang
lampau dan yang kemudian, tolong berikan syafa’atmu kepada Tuhan untuk
meringankan penderitaan kami ini, tidakkah anda mengetahui bagaimana keadaan
kami ini. Maka pergilah aku ke bawah ‘Arsy untuk bersujud kepada Tuhan,
kemudian Allah membukakan untukku puja-puji yang belum pernah aku ucapkan dan
tidak pernah diucapkan oleh orang sebelumku, sehingga Tuhan berfirman : Ya
Muhammad angakat kepalamu, mintalah aku terima, berikan syafa’atmu akan
dilaksanakan, maka aku angkat kepala dan berdo’a : Ya Rabbi selamatkan ummatku,
YA Rabbi selamatkan Ummatku. Di jawab : Ya Muhammad masukkan ummatmu yang tidak
kena hisab dari pintu kanan sorga, sedang yang lain bersama orang banyak dari
pintu lainnya. Kemudian Nabi Saw bersabda : Demi Allah yang jiwaku ada di
tangan-Nya lebar di antara kedua daun pintu surga itu sebagaimana jarak antara Makkah
dengan Himyar, atau antara Makkah dengan Bashra (Saym “. (HR. Bukhari
Muslim)
Saat itulah Nabi Saw akan memberikan syafa’at kepada umatnya melalui
do’anya kita akan memperoleh keringanan dalam masa penantian di tanah
Maghsar setelah Nabi Muhammad Saw
mendapatkan izin dari Allah untuk dapat memberikan syafa’atnya, maka Nabi
melaksanakan dan menggerakkan masa penghisaban, untuk menentukan masuk surgakah
atau masuk neraka.
Syafa’at Nabi Saw di akherat selain syafa’at agung, yakni syafa’at bagi
pendosa atau pelaku dosa (Mudznib). Pelaku dosa di sini yang dimaksud yaitu
pelaku dosa besar (ahl al-Kabair), baik
dalam wujud
melakukan hal yang diharamkan, seperti makan harta riba, minum khamr atau
zina, maupun dalam wujud meninggalkan shalat, enggan zakat, atau tidak berpuasa
Ramadhan tanpa udzur.
Pembenaran syafa’at Nabi ditujukan kepada para pelaku dosa besar bukan
kepada pelaku dosa kecil. Hal ini dikarenakan dengan menjauhi dosa besar
berarti dosa-dosa kecil itu dihapuskan. Pelaku dosa besar akan memperoleh
syafa’at Nabi Muhammad Saw setelah terlebih dahulu mereka dimasukkan ke nereka.
Kemudian Allah menerima syafa’at beliau buat mereka yang berdosa ini dan
selanjutnya dikeluarkan dari neraka.
Mereka (pelaku dosa besar) ini melakukan dosa besar, namun masih dalam keadaan tauhid atau tidak menyekutukan Allah Swt.
Berkaitan dengan jaminan Rasulullah Saw
dikeluarkannya ahli tauhid dari neraka, diriwayatkan oleh Abu Sayyed al-Khudri
r.a. :
“Abu Sayyed al-Khudri r.a. berkata : Nabi Saw bersabda : Akan masuk
ahli surga ke surga, dan ahli neraka ke neraka, kemudian Allah memerintahkan :
keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari
iman, lalu dikeluarkanlah mereka sudah hitam warna mereka, lalu mereka
dimasukkan dalam sungai (nahrul hayat) hidup. Maka tumbuhlah mereka itu bagaikan
biji yang tumbuh setelah ada air bah. Tidaklah tumbuhnya berwarna kuning
berbelit (berkait)“. (HR. Bukhari Muslim)
Syafa’at Nabi Saw di akherat, bisa dikatakan termasuk pada kategori
jenis Syafa’at Musthalahah, di mana pada jenis syafa’at ini adalah
merupakan sampainya rahmat dan maghfiroh Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya
melalui Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw melaksanakan syafa’atnya dengan berdo’a kepada Allah Swt dengan
maksud meminta izin supaya dapat memberi syafa’at kepada umatnya.
Do’a Nabi Saw inilah yang disebut sebagai syafa’at. Nabi Saw menolong
umatnya kelak di hari kiamat dengan do’anya yang mustajab. Do’a itulah yang
selalu dinantikan oleh kaum muslimin kelak di hari kiamat atas izin Allah Swt,
Nabi Muhammad Saw akan memberikan syafa’atnya kepada umat yang diizinkan oleh
Allah Swt untuk diberi syafa’at. (Ummi Hanik, Ed. Lukni Maulana/Majelis
Jagat Syafaat)

Komentar
Posting Komentar