Cinta Tanah Air Menurut Kajian Tafsir Al-Ibriz Karya KH. Bisri Mustofa

TAFSIR AL-IBRIZ KH. BISRI MUSTOFA BICARA TENTANG NASIONALISME CINTA TANAH AIR


MENURUT Ensiklopedi Nasional Indonesia, Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis dan maju dalam satu kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabdi identitas, persatuan, kemakmuran dan kekuatan atau kekuasaan negara bangsa yang bersangkutan.

KH. Bisri Mustofa dalam menafsirkan makna nasionalisme atau paham cinta terhadap bangsanya memiliki beberapa unsur seperti cinta tanah air, patriotisme, persamaan keturunan, pluralisme, persatuan dan pembebasan. Namun di sini akan dibahas salah satu unsur dari nasionalisme yakni cinta tanah air.

“Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[96], Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah/2: 144)

KH Bisri Mustofa dalam tafsirnya Al-Ibriz menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

“Sangking kepingine kanjeng Nabi diwangsulaken marang ka’bah maneh, nganti kanjeng Nabi asring ndanga’ mirsani langit kang nuduhaken temen anggone arep-arep tumekane wahyu. Dawuh pindah kiblat temenan barang wes nem belas utowo pitulas wulan kanjeng Nabi madep baitul muqoddas. Kanjeng Nabi tompo wahyu kang surasane supoyo kanjeng Nabi sak umate madep ka’bah naliko iku suwarane wong-wong Yahudi lan wong-wong Musyrik geger: opo iku wong madep kiblat kok ngolah-ngalih, sedelok madep ka’bah, sedelok madep baitul Muqoddas, sedelok maneh madep ka’bah maneh. Mireng suworo geger mau, kanjeng Nabi susah nanging ora sepiroho. Sebab sak durunge menungso kanjeng Nabi wes tompo dawuh kang surasane: wong-wong bodho sangking wong Yahudi lan wong Musyrik bakal mesti podo nyelo anggone kanjeng Nabi pindah kiblat.”

Tafsiran dari KH Bisri Mustofa tersebut memiliki makna bawasanya rasa Nasionalisme (cinta tanah tumpah darah) Nabi Muh}ammad Saw sangat tinggi sekali. Hal ini dibuktikan ketika beliau berhijrah ke Madinah, dengan shalat menghadap ke arah baitul Muqaddas, tetapi setelah 16 atau 17 bulan lamanya ternyata beliau rindu kepada Makkah dan ka’bah. Karena Makkah merupakan tanah leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab. dengan sikap Nabi Saw tersebut “nganti kanjeng Nabi asring ndanga’ mirsani langit”  menunjukan bahwa Nabi Saw memohon turunnya wahyu supaya dikembalikan kiblatnya ke arah Makkah (ka’bah). Pada akhirnya Allah merestui keinginan beliau untuk menghadap ke arah ka’bah. Walaupun orang-orang Yahudi dan Musyrik mencelanya.

Kisah tersebut menerangkan pada kita bahwa pada diri rasulullah Nabi Muhammad Saw memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya. Rasa kebangsaan (Nasionalisme) tidak dapat dinyatakan adanya, tanpa dibuktikan oleh cinta tanah air.

Ada ungkapan yang sudah populer yakni “Hubbul watan minal iman” yang artinya cinta tanah air sebagian dari iman. Ternyata Nabi Muhammad telah membuktikan dan mempraktekannya dalam kehidupannya pribadi maupun hidup bermasyarakat. Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak  pula  ketika meninggalkan  kota  Makkah  dan  berhijrah  ke Madinah. Sambil menengok ke kota Makkah beliau berucap:

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat  tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya” (HR. Bukhari)

Begitu juga cinta tanah air diikuti para sahabat Nabi. Sehingga Nabi Muhammad Saw memohon kepada Allah Swt:

“Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami, sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada kami, bahkan lebih.” (HR. Bukhari)

Setiap manusia memiliki naluri terhadap tanah kelahirannya, tanah yang mereka cintai yakni tanah air. Mereka yang mempertahankan, memperkuat, dan dalam setiap gerak langkahnya adalah tanah yang ia cintai. Bahkan Nabi Muhammad Saw menjadikan tolak ukur kebahagiaan seseorang mencintai tanah airnya salah satunya memperoleh rizeki dari tanah airnya sendiri. Sebagaimana ada pepatah yang mengatakan “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Namun apakah ketika kita bekerja di luar negeri akan kehilangan nasionalisme? Tidak, karena nasionalisme adalah naluri, sedangkan rizeki bukan sekadar persoalan uang, rizeki salah satunya adalah ketika kita dekat dengan orang-orang yang kita cintai yakni keluarga.

Begitupun juga barangsiapa gugur membela keluarga, mempertahankan harta, dan membela negaranya ia termasuk golongan orang-orang yang mati syahid.

Persoalan Nasionalisme tidak hanya dicontohkan Nabi Muhammad Saw, bahkan Nabi Ibrahim As juga memberikan teladan cinta tanah air, sebagaimana firman Allah Swt:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah/2: 126)

KH Bisri Mustofa dalam tafsir Al-Ibriz menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

“Nalika tanah Makkah isih rupo oro-oro ento-ento tanpo omah tanpo sumur, durung ono menungso kang manggon ono ing kono, kejobo siti hajar garwane nabi Ibrahim lan puterane kang isih bayi yoiku nabi Isma’il, kanjeng nabi Ibrahim dungo marang Allah ta’ala kang surasane yuwun supoyo tanah Makkah didadi’ake negoro kang aman. Ahli Makkah kang mu’min supoyo diparingi rizqi saking woh-wohan. Naliko iku Allah ta’ala dawuh kang surasane: ora amung wong-wong mu’min, nanging ugo wong kafir bakal diparingi rizqi lan kainakan sa’jerune uring ono ing alam dunyo. Dene ono ing akhirote wong-wong kafir bakal disikso ono ing neroko, panggonan kang banget olone.”

Jejak rekam doa Nabi Ibrahim As tersebut menunjukan kepada kita bahwa sesungguhnya sikap Nasionalisme terhadap negeri yang dicintai, meski penduduk mayoritas Makkah pada waktu itu tidak seagama dengan Nabi Ibrahim As. Karena sangking cintanya Nabi Ibrahim As terhadap tanah airnya sampai-sampai beliau berdoa agar negeri yang ditempati dijadikan negeri yang aman dan makmur.

Kisah Nabi Ibrahim As dalam mencintai negerinya dapat menjadi pelajaran bagi kita yakni bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku, agama, ras, maupun golongan. Bahwasanya cinta tanah air harus tertanam pada diri kita meski kita beda keyakinan. (Ed: Lukni Maulana/Majelis Jagat Syafaat)

#JagatSyafaat
#MajelisJagatSyafaat

Komentar